JUDUL BARU PENDIDIKAN KARAKTER INDONESIA

3 January 2013

JUDUL BARU

PENDIDIKAN KARAKTER INDONESIA[1]

Arif Mustapa, S.Pd.I, M.S.I[2]

  1. Pendahuluan

Masalah moral masalah akhlak, Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu, Peraturan yang sehat yang kami mau
Tegakkan hukum setegak-tegaknya, Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau, Menjadi manusia setengah dewa
“Penggalan Lirik Lagu Manusia Setengah Dewa di Populerkan Oleh Iwan Fals”

 

Diskursus tentang pendidikan karakter yang di munculkan oleh para birokrat pendidikan pada sekitar tahun 2010 menjadi perbincangan menarik dan hangat akhir-akhir ini. Perbincangannya pun tidak terbatas pada pakar dan praktisi pendidikan, bahkan sampai bermunculan praktisi-praktisi dadakan bidang pendidikan karakter di negeri ini. Perbincangannya- pun tidak hanya di dunia maya seperti; televisi, internet, media massa, namun, merambah pula dunia nyata seperti; workshop, lokakarya, seminar, diskusi di kampus-kampus, sampai ke warung angkringan pinggir jalan, sehingga pendidikan karakter menjadi “artis” dadakan dengan bayaran mahal di negeri ini.

Dalam  fakultas pikiran penulis timbul suatu pertanyaan mendasar mengapa indonesia tidak mendesain dan menyelesaikan program pendidikan yang pernah dan telah diluncurkan mulai dari KBK, KTSP, multikultural, spektrum dan akhirnya pendidikan karakter, kemudian yang paling terbaru perombakan total kurikulum dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas kita tunggu sampai berapa tahun kuat bertahan[3].

Mengapa pula indonesia tidak mengkonsep pendidikannya berdasar pada keadaan sosial, budaya sendiri untuk bangsanya sendiri, apa sudah sedemikian sulit merumuskan pendidikan yang cocok dan pas untuk warganya sendiri?

Semua kebijakan pendidikan yang di ambil dan diputuskan seolah-olah tanpa perencanaan dan mengambil kesana-kemari yang dianggap baik, kemudian dalam hitungan tahun berganti judul baru, memang kebijakan pendidikan merupakan salah satu sarana untuk melanggengkan kekuasaan[4] kebijakan pendidikan merupakan bagian kecil dari kebijakan-kebijakan di negeri ini. Namun, kebijakan pendidikan mempunyai nilai yang sangat strategis untuk membentuk pola pikir dan opini masyarakat.

Berganti-gantinya judul pendidikan di Indonesia membawa efek negatif yang tidak sedikit dimana masyarakat selalu disuguhi perilaku menyimpang[5], beringasnya pelajar dimana hampir setiap hari kita di suguhi aksi-aksi perkelahian pelajar di berbagai tempat yang seolah tidak ada ujung pangkal dan solusi yang permanen untuk meredam perkelahian para pelajar tersebut. Masif perkelahian tersebut seperti fenomena gunung es yang kapan-pun siap mencair ketika ada api yang menyulut.

Kemana nalar mereka sebagai pelajar dan mahasiswa padahal mereka selalu di ajari tentang kebaikan, logika kritis, menyelesaikan suatu permasalahan dengan mengedepankan musyawarah. Bahkan yang menyedihkan pola pikir pelajar dan mahasiswa sekarang pragmatis dimana mereka menilai guru/dosen yang baik adalah yang datang terlambat, selasai awal waktu, tidak banyak tugas, memberi nilai bagus, sebaliknya dosen/guru idealis meraka tidak sukai mereka menganggap guru/dosen semacam ini adalah dosen “killer”. Bahkan pola semacam ini banyak dilanggengkan pula pejabat di lingkungan pendidikan dimana seorang dosen/guru ketika memberikan nilai yang tidak sesuai dengan pesanan akan terkena semprot (memang hal ini perlu penelitian lebih mendalam).

Menurut hasil penelitian radikalisme telah lama menyusup di kalangan pelajar menengah  pertama serta atas. Menarik untuk di cermati banyak pelajar mengatakan bersedia mengikuti kegiatan disrtuktif atas nama agama (48,90%), sehingga banyak di antara pelajar membenarkan aksi teror yang dilakukan Imam Samudra cs (14,20%), dengan dua pola pikir di atas serta realitas kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana rakyat melihat kekayaan hanya berputar pada kalangan pejabat dan kroni-kroninya, dan belum memberikan keadilan pada rakyat seluruhnya. Maka banyak pelajar yang mengatakan bahwa  pancasila sudah tidak relevan untuk menjadi dasar negara Indonesia (25,80%), sehingga perlu ada alternatif lain dari sistem pemerintahan demokrasi pancasila yang sudah tidak memberikan rasa keadalin untuk itu menurut responden perlu tegakkan syariat islam. Pada akhirnya menimbulkan pemikiran bahwa pemerintah dan aparat indonesia adalah thaghut karena membela negara adikuasa yang memusuhi islam,  pemerintahan dan aparat Indonesia pantas dimusuhi dan di musnahkan untuk diganti dengan pemerintahan islam (84,80%)[6].

Para pemimimpin negeri ini selalu menghimbau dan meneriakkan memusihi korupsi, kolusi dan nepotisme, pentingnya penghematan APBN/APBD, air, listrik, BBM,  mengatakan pentingnya kejujuran, bertoleransi, tidak mencaci maki,  cinta produk Indonesia. Realitasnya banyak pejabat yang tersangkut kasus KKN, pemerintah menunjukkan sikap arogan dalam menghamburkan dana untuk membakar kembang api tiap pergantaian tahun baru, pembangunan kantor-kantor pemerintahan tidak ramah lingkungan boros air, tomas hanya bisa akur, toleransi ketika mereka butuh koalisi, dimana dalam kampanye meraka selalu menjelekkan orang lain, bahkan setiap tahun pemerintah selalu mengangarkan membeli mobil-mobil mewah produk impor untuk para pejabat negeri ini.

Dimana mobil-mobil  pejabat memiliki kapasitas mesin yang besar, sehingga mobil-mobil-mobil pejabat boros BBM, patut disayangkan untuk membiayai pembelian mobil dan BBM yang dipungut dari pajak-pajak rakyat miskin, para pajabat di negeri ini tidak mememiliki sense of crisis terhadap keadaan rakyatnya[7], tentu tidak akan menjadi persoalan ketika semuanya di biayai dari kantong pejabat sendiri.

Kondisi-kondisi di atas diperparah dengan sistem pendidikan formal yang lebih menekankan aspek kognitif, yang akhirnya pendidikan tentang kejujuran, kepedulian, toleransi, kebangsaan, cinta tanah air akan selesai ketika sudah di ujikan dalam UTS dan UAS dalam waktu satu sampai dua jam, sehingga untuk melihat mereka punya karakter atau tidak nanti di lihat pada nilai akhir mahasiswa tersebut. Sungguh sangat rendah kalau nilai-nilai tentang kebaikan jika akhirnya hanya untuk memperoleh angka-angka an sich, tanpa terinternalisasi dalam kehidupan bersama.

Mata kuliah tentang nilai-nilai kepribadian, cinta tahah air, hanya di ajarkan pada mata kuliah agama, pancasila, kewarganegaraan serta bahasa Indonesia, itupun hanya (dua sampai tiga) 2-3 SKS dari ratusan lebih SKS yang harus di tempuh mahasiswa. Hal itu diperparah dengan gaya mengajar dosen yang lebih menekankan pada aspek kognitif serta pemberian tugas tanpa menyentuh aspek realitas yang ada dalam masyarakat (emosi), pada akhirnya tidak mampu merubah perilaku peserta didik/mahasiswa (psikomotor) untuk menjadi dirinya sendiri, warga masyarakat apalagi sebagai warga negara.

Realitas-realitas yang dipaparkan di atas masih sangat jauh dari nilai-nilai pendidikan kepribadian, sehingga pembentukan karakter jalan di tempat karena masyarakat bingung siapa yang dapat dijadikan teladan di  negeri ini.


[1]. Makalah dipresentasikan dalam seminar karya dosen Mata Kuliah kepribadian Universitas Brawijaya Malang.

[2]. Dosen Mata kuliah Pendidikan Agama Islam Universitas Brawijaya Malang.

[3]. Sekarang pemerintah telah menyusun kurikulum baru serta perombakan yang besar untuk tingkat pendidikan dasar sampai pendidikan menengah atas yang dianggap sudah tidak relevan lagi. Memang kurikulum bukan kumpulan kitab suci yang tidak bisa berubah dan memang kurikulum harus berubah untuk menanggapi perubahan zaman yang terus berkembang. Namun yang tidak seharusnya kurikulum berubah untuk menanggapi permasalahan tawuran pelajar yang semakin muluas akhir-akhir ini. Kurikulum terbaru masih di uji publik, dalam uji publik banyak masyarakat terutama guru banyak memberikan kritikan terhadap kurikulum yang di buat untuk menghilangkan/menutupi banyaknya tawuran pelajar di berbagai daerah. Kurikulum harus di perhatikan sampai berapa lama harus kuat bertahan, menurut beberapa pakar kurikulum yang terbaik dapat bertahan minimal selama 15 tahun.

[4]. Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, (Jakarta: LP3ES, 2008) hal xxvi-xxvii mengemukakan “ bahwa tidak ada pendidikan yang netral. Hal ini membawa konsekuensi kepada kita harus terus menerus bersikap kritis, waspada serta jeli terhadap kebijakan pendidikan yang selalu di wacanakan objektif. Kita juga dapat mengamati bagaimana kebijakan pendidikan di Indonesia, kebijakan pendidikan yang berganti hampir tiap tahun berjalan. Para birokrat lebih mengedepankan birokrasi pendidikan serta menghilangkan apa esensi pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa”.

[5]. Ada sinyalemen pelajar tingkat menengah di situbondo melakukan arisan dengan konsekuensi siapa yang mendapatkan arisan harus melakukan hubungan intim dengan pekerja seks komersial (baca koran sindo online, pada tanggal 09-desember 2012,  juga wawancara salah satu tv swasta dengan PSK, ditayangkan pada tanggal 16-12-2012). Dalam telusuran koran Jawa Pos dan Kompas, mahasiswa di malang juga tidak mau kalah dengan juniornya mereka merelakan dirinya untuk dinikmati oleh para lekaki hidung belang yang haus akan kehidupan dunia, walaupun mereka harus membayar mahal untuk mendapatkan “ayam kampus”. Dalam penelusuran kompas ada beberapa alasan mereka melakukan hal demikian pertama untuk melampiaskan nafsu serta menambah penghasilan

[6]. Hasil penelitan LAKIP yang dimuat pada koran tempo online 26 April 2011, dengan sampel 100 SMP SMA Negeri dan Swasta (tanpa Madrasah, siswa berjumlah 993 dan Guru PAI berjumlah 590)

[7]. Realitas kehidupan masyarakat Indonesia banyak yang tidak memiliki rumah yang layak huni, sulitnya memperoleh air bersih yang layak minum, mahalnya biaya berobat di rumah sakit pemerintah bagi oran-orang miskin, elitisnya lembaga pendidikan bagi kaum fakir dan miskin, sehingga pendidikan hanya boleh di nikmati oleh orang-orang yang mempunyai kantong berlebih. Liat sikap dan perilaku yang di contohkan oleh Mahmoud Dinejad yang berangkan kepada lembaga pendidikan  Coba kita bandingkan dengan kehidupan presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dia kekantor mobil keluaran tahub 1977, tanpa rumah kepresidenan, tetapi lebih memilih melepas penat di rumah susun yang dia miliki.

Hello world!

27 November 2012

Selamat Datang di Universitas Brawijaya. Ini adalah posting pertamaku